Kisah Motivasi Kisah Laki-Laki Tukang Kayu

storiesofappreciation

Kisah Motivasi Kisah Laki-Laki Tukang Kayu – Seorang tukang kayu tua berencana untuk berhenti berasal dari pekerjaannya di sebuah agen real estate.

Kisah Motivasi Kisah Laki-Laki Tukang Kayu

storiesofappreciation – Dia menyebabkan permohonan tersebut kepada pemilik perusahaan: Tentu saja, dia kehilangan pendapatan bulanannya karena dia tidak bekerja, tetapi keputusan telah dibuat. Dia letih Ia mendambakan beristirahat dan menggunakan sisa jaman tuanya dengan damai dengan istri dan keluarganya.

Baca Juga : Cerita Motivasi Seorang Wanita Tau Yang Bijak

Pemilik perusahaan mulai sedih dengan kehilangan salah satu karyawan terbaiknya. Kemudian dia berharap tukang kayu berikutnya untuk membangun sebuah rumah.

Tukang kayu itu setuju dengan permohonan spesifik tuannya dan mengangguk. Tapi dia terpaksa melakukannya. Dia mendambakan langsung berhenti. Hatinya tidak semuanya tercurah. Dengan enggan, dia mengerjakan proyek itu. Dia hanya memakai bahan.

Rumah yang Anda minta pada akhirnya selesai juga. Hasilnya adalah rumah yang buruk. Sayang sekali dia kudu mengakhiri karirnya tanpa menyebabkan pencapaian yang begitu mengesankan.

Ketika aku berkunjung untuk menyaksikan rumah yang aku minta, aku beri tambahan kunci rumah kepada tukang kayu. “Ini rumahmu,” katanya.

“Ini hadiah berasal dari kami.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu! Betapa memalukan dan disesalkan. Jika dia apalagi sadar bahwa dia sedang membangun rumah untuk dirinya sendiri, dia akan membangun rumah dengan dengan langkah yang sama sekali berbeda. Sekarang dia kudu tinggal di rumah yang bukan buatan tangan.

Ini bekerja dalam hidup kita. Banyak berasal dari kami sanggup bingung dengan hidup bersama. Saya lebih senang tantangan yang dangkal daripada hal-hal yang baik.

Faktanya, kami tidak beri tambahan yang terbaik ke anggota terutama berasal dari kehidupan. Di akhir perjalanan, kami terkejut menyaksikan apa yang kami melaksanakan dan tiba di rumah yang kami bangun.

Jika kami sadar ini sejak awal, kami akan menjalani hidup ini dengan dengan langkah yang berbeda.

Pikirkan kami sebagai tukang kayu. Pikirkan mengenai rumah yang kami bangun. Setiap hari mereka memaku, menyebabkan papan, dan membangun dinding dan atap.

Mari kami merampungkan rumah berbarengan seolah-olah hanya sekali seumur hidup. Bahkan terkecuali kami hanya sanggup hidup untuk satu hari, kami layak meraih kehidupan yang hebat dan mulia terhadap hari itu.

Apa yang sanggup Anda jelaskan lebih gampang dipahami. Kehidupan kami besok adalah hasil berasal dari sikap dan pilihan kami hari ini. Hari Penghakiman adalah punya Tuhan, bukan punya kita, jadi pastikan untuk bergabung dengan kami di garis kemenangan.